Knowledge Center
Overview Search Downloads Up
Category: Publication
Page 5 of 23
Order by: Default | Name | Date | Hits | [Descending]
Select all files:
Files:
Public Opinion and Indonesia’s Independent and Active Foreign Policy Decision Making in Democratization Era (2004-2009)

Public Opinion and Indonesia’s Independent and Active Foreign Policy Decision Making
in Democratization Era (2004-2009)

by: Peni Hanggarini (z1627596)

Foreign policy is shaped by domestic and international factors. Rosenau argues that domestic politics functions as a significant variable in foreign policy decision making (FPDM).1 Since the domestic reformation and the transition to democracy in Indonesia in 1998, the question should be raised about whether the changing environment of domestic politics has affected foreign policy.

It is important to analyze this question, as democratization of domestic politics could trigger democratization of FPDM. However, there has been a lack of study on democratization of foreign policy, as most literature discusses domestic politics of democratization. Few studies on how domestic factors influence foreign policy exist; however, most of the studies analyze the output or outcome of foreign policy, not the process. Some of the studies are Page and Shapiro’s (1983) and Jacobs and Page’s works (2005), which focus on public opinion’s influence to the U.S. FPDM. Page and Shapiro’ research finding (1983) presents evidence that public opinion is often the most influential factor affecting policy, rather than policy affecting opinion.2





Created
Size
Downloads
2011-05-19 15:10:50
116.71 KB
67
The non-aligned engagement

The non-aligned engagement
Peni Hanggarini, DeKalb, Illinois | Tue, 05/24/2011 7:00 AM | Opinion

The Non-Aligned Movement (NAM) is conducting its 16th Ministerial Conference and Commemorative Meeting in Nusa Dua, Bali, from May 23 to 27. The event serves as a significant forum in the history of NAM, which was established 50 years ago.

Created with only 25 member states in 1961, now the movement has grown and will welcome Fiji and Azerbaijan as candidate members. In the forum, 118 member states, 18 observer states, 10 observer organizations and at least 30 invited countries will attend.





Created
Size
Downloads
2011-05-25 16:04:03
45.11 KB
113
Pemimpin yang humble

Pemimpin yang humble

Oleh Fatchiah E. Kertamuda


Sosok pemimpin yang rendah hati (humble) mulai langka ditemui di negeri ini. Ironisnya, pemimpin yang ada saat ini menunjukkan arogansinya di setiap kesempatan. Banyak pemimpin yang berpikir menjadi pemimpin adalah  melakukan tugas, memiliki otoritas, memiliki posisi untuk memberikan perintah kepada orang yang dipimpin, memiliki kemampuan untuk mendapatkan pengaruh atas orang lain karena kepandaiannya.

Menjadi pemimpin yang humble berarti dia harus mendorong orang yang dipimpinnya dan memberikan mereka penghargaan dan pemimpin memberikannya sesuai haknya. Oleh karena itu untuk menjadi pemimpin yang rendah hati perlu memiliki kemampuan yang tidak hanya sekadar pengetahuan, keterampilan dan bakat saja.





Created
Size
Downloads
2011-05-25 22:09:06
45.37 KB
132
Benahilah Pangan ASEAN

Benahilah Pangan ASEAN

Harian Seputar Indonesia, Saturday, 07 May 2011

“...Jangan hanya menetapkan target saja.” Ini pernyataan dari Kamar Dagang Inggris bidang pangan, kehutanan, pertanian dan kelautan ketika berdialog dengan pengusaha-pengusaha sektor pangan dan pertanian di ASEAN dalam Kerja Sama Tingkat Tinggi Bisnis ASEANUni Eropa (UE) 5 Mei 2011 di
Jakarta.





Created
Size
Downloads
2011-06-13 16:11:08
45.99 KB
107
Problems of Democratisation in Indonesia: Elections, Institutions, and Society

Problems of Democratisation in Indonesia: Elections, Institutions, and Society

Peni Hanggarini

 



 





Created
Size
Downloads
2011-07-06 20:43:21
5.52 MB
139
Peringatan bagi Pemimpin

Peringatan bagi Pemimpin

Kompas, 25 Juli 2011- Opini hal 6

Anies Baswedan

Makin hari kegalauan itu tumbuh makin pesat, tetapi berhentilah mengatakan bangsa ini bobrok. Hentikan tudingan bahwa bangsa ini tenggelam. Tidak! Bangsa ini sedang bangkit dan akan makin tinggi berdirinya.

Lihatlah rakyat di sana-sini, bangun sebelum pagi, penuhi pasar rakyat, padati jalan dan kelas, menyongsong kehidupan. Dengan sinar lampu apa adanya mereka coba sinari masa depan sebisanya. Petani, guru, nelayan, pedagang, atau tentara di tepian republik jalani hidup berat penuh tanggung jawab. Di tengah kepulan polusi pekat, rakyat kota menyelempit mencari masa depan. Mereka rebut peluang, jalani segala kesulitan tanpa pidato keprihatinan. Rakyat yang tegar dan tangguh. Denyut geraknya membanggakan. Kegalauan republik ini bukan bersumber pada rakyat, melainkan ada pengurus negara yang seakan berjalan tanpa target. Deretan agenda penting dan urgen jadi wacana, tetapi tidak kunjung jadi realitas.





Created
Size
Downloads
2011-07-26 15:23:26
74.4 KB
137
Neo-Soeharto & Politisasi Lembaga Anti-Korupsi

Neo-Soeharto & Politisasi Lembaga Anti-Korupsi

Kompas, 25 Juli 2011

Oleh Ahmad Khoirul Umam MA

Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta

Dalam pidato kepresidenannya di hadapan MPR jelang perayaan HUT RI ke-25, tepatnya pada 16 Agustus 1970, Presiden Soeharto secara eksplisit menyatakan perang melawan korupsi. Tokoh berpredikat Bapak Pembangunan itu mendeklarasikan diri sebagai garda terdepan dalam pemberantasan korupsi. “Jangan ragu, saya akan memimpin langsung perang melawan korupsi”, ujar Soeharto kala itu (Smith 1993: 49).





Created
Size
Downloads
2011-07-26 15:28:54
82.34 KB
121
Peran Konselor di Sekolah dalam Pembentukan Karakter Siswa

p { margin-bottom: 0.08in; }Peran Konselor di Sekolah dalam Pembentukan Karakter Siswa

Fatchiah E Kertamuda, MSc.
(Program Studi Psikologi, Universitas Paramadina, Jakarta)

Tujuan Pendidikan Nasional berdasarkan pasal 3, UU Sisdiknas No.20/2003 adalah berfungsi mengembangkan kemampuan  dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka  mencerdaskan kehidupan bangsa.  Konselor, sebagai salah satu dari dari kualifikasi pendidik (berdasarkan UU  No.20/2003 Pasal 1 ayat 6, Depdiknas, 2008) mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan karakter siswa di sekolah. Menurut Bafile (2010) bahwa  dalam pembentukan karakter terdapat enam pilar yaitu trustworthiness, respect, responsibility, fairness, caring dan  citizenship. Dalam menjalankan perannya, konselor di sekolah perlu memiliki  pemahaman terhadap enam pilar  pembentuk karakter tersebut. Selain itu
konselor memiliki kompetensi akademik, kompetensi professional dan juga  eberapa
kompetensi lain yang diharapkan dapat membantu pembentukan karakter siswa di
sekolah. Studi yang dilakukan Llyod & Berlin (2007) menyebutkan bahwa  karakter remaja yang menerima perubahan positif dan meningkatkan  karakternya dapat mengurangi perilaku yang tidak baik seperti kenakalan remaja. Britzman (2005) mengemukakan bahwa konselor sekolah yang professional  berpotensi untuk mendorong siswa memiliki karakter yang kuat,  meningkatkan prestasi siswa dan menjadikan suasana sehat di sekolah. Artikel ini membahas tentang enam pilar
dalam pembentukan karakter,  kompetensi-kompetensi konselor dan peran konselor di sekolah dalam pembentukan karakter siswa melalui program pendidikan karakter.





Created
Size
Downloads
2011-10-10 17:39:45
140.21 KB
114
PERAN DUKUNGAN KELUARGA PADA PEMIMPIN WANITA

PERAN DUKUNGAN KELUARGA PADA PEMIMPIN WANITA

Fatchiah E Kertamuda
Universitas Paramadina, Jakarta

Abstraksi
Studi ini merupakan salah satu studi tentang pentingnya dukungan keluarga pada pemimpin wanita. Fokus penelitian adalah pada aspek-aspek yang terkait dengan dukungan keluarga (bentuk dukungan keluarga, pembagian waktu, dan reaksi terhadap dukungan keluarga). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dukungan keluarga pada pemimpin wanita. Metode yang digunakan adalah studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga merupakan faktor penting bagi pemimpin wanita dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dan juga sebagai bagian dari anggota keluarga.





Created
Size
Downloads
2011-10-10 17:48:08
146.09 KB
109
Gambaran Tentang Kemampuan Bersosialisasi Pada Karyawan: Sebuah Kajian di Institusi Pendidikan Tinggi

Anita Maharani
Anggara Bakti Srikandi

Abstract

Social relationships in the work environment is one source of job satisfaction. Work environment is employees place to have a  socialization. Work environment is a major focus social bond  formation, as employees find opportunities and legitimize the intent to find something new. Organization or educational institution is also the social sphere. Educational institutions can be defined as an  organization that was founded and is run with the aim to become a place of development and dissemination of education, which of course depends on the segmentation of the intended participants.  Type of the research is descriptive study, the purpose of this study was to see the preliminary description of social skills at an employee of a PT. X. The study population, is 130 people. Samples were  selected by Non-Probability Sample techniques. Sampling mode with purposive sampling. Purposive sampling was conducted on the basis of considerations that researchers consider only the desired elements have been present in samples taken member. Thus, the sample in this research is 57 people. This research data collection method is by questionnaire. Instrument type of this research is Likert scale.  Results obtained in this study has not been able to prove the depth of social competence, although some may be disclosed allegations of social competence, such behavior will not give a hasty assessment of something, which is reflected in the statement "at a party, I can conclude soon if there is someone who is interested in me ", gaining the majority of respondents" disagree "(as many as 50.9% of all respondents).

Keywords: Description, Skills, Socialization, Employees, Higher  Education Institution





Created
Size
Downloads
2011-11-04 04:31:39
172.25 KB
119
Sunday the 27th. Universitas Paramadina. - All rights reserved.
.