Knowledge Center
Overview Search Downloads Up
Category: Publication
Page 1 of 23
Order by: Default | Name | Date | Hits | [Descending]
Select all files:
Files:
KEBERSAMAAN DAN INOVASI

Iin Mayasari
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Paramadina Jakarta
iin.mayasari@paramadina.ac.id

Inovasi merupakan suatu konsep yang menunjukkan adanya produk baru atau proses baru dari aktivitas perusahaan. Aktivitas ini dianggap sebagai penunjang keberadaan perusahaan dalam jangka panjang. Selain penunjang keberadaan perusahaan, inovasi harus diadakan secara terus-menerus karena berusaha untuk meningkatkan arus kas untuk keperluan investasi. Tuntutan konsumen yang terus menerus berubah memengaruhi perusahaan untuk selalu membuat produk baru. Selain itu, tingkat persaingan yang tinggi dalam suatu industri menuntut perusahaan harus bisa menyeimbanginya atau  bahkan bisa menunjukkan kinerja yang melampaui kompetitor. Produk inovatif merupakan suatu kebanggaan bersama yang  dirasakan oleh perusahaan. Tidak hanya pimpinan atas yang merasa bangga terhadap munculnya produk inovatif. Produk inovatif ini bisa muncul oleh sejumlah faktor yang tidak hanya disebabkan oleh  adanya dana yang besar untuk menciptakan produk. Namun, faktor yang bisa mendukung adalah faktor kebersamaan. Faktor kebersamaan ini merupakan suatu modal sosial yang ada dalam  perusahaan dan diciptakan melalui suatu sistem yang mendukung. Faktor kebersamaan ini merupakan suatu sinergi dari semua kalangan individu yang ada dalam perusahaan yang bersama-sama berusaha untuk menciptakan suatu produk. Produk ini dimunculkan dari adanya sharing ide dari semua individu dalam perusahaan. Jadi,  penciptaan produk tidak berasal dari satu individu, namun berdasarkan kebersamaan antar individu dalam organisasi.





Created
Size
Downloads
2007-07-20 19:58:04
32.65 KB
69
KARTU KREDIT DAN SARAT MAKNA

Iin Mayasari
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Paramadina Jakarta
iin.mayasari@paramadina.ac.id

Sukses kehidupan bisa ditentukan oleh banyak hal. Salah satunya adalah bentuk kepemilikan barang. Kepemilikan barang ini juga menentukan status sosial. Kepemilikan barang menjadi bagian dari budaya saat ini karena dianggap sebagai sesuatu yang dibenarkan dan dilakukan oleh sekelompok orang atau masyarakat tertentu atau bahkan semua kalangan masyarakat. Usaha untuk memenuhi  kepemilikan barang saat ini tidaklah sesulit 10 tahun lalu. Kita dengan mudah saat ini untuk mendapatkan sesuatu tanpa harus  berpikir lebih jauh dan panjang. Kartu kredit memudahkan solusi dalam memenuhi keinginan untuk memiliki sesuatu. Oleh karena itu, menjadi hal yang aneh kalau seseorang tidak memiliki kartu kredit. Kartu kredit sudah menjadi sesuatu yang wajib ada dalam dompet konsumen. Setiap bank mengeluarkan fasilitas untuk memudahkan konsumen dalam mendapatkan sesuatu. Iklan kartu kredit terpampang besar di setiap jalan besar di Jakarta. Sales personnel  bank gencar menawarkan aplikasi kartu kredit di mall. Strategi pemasaran tidak hanya itu. Penggunaan telemarketing juga dilakukan untuk memudahkan dalam menjangkau konsumen.

Penelitian  Bernthal, Crockett, dan Rose yang berjudul “Credit Cards as Lifestyle Facilitator” dalam Journal of Consumer Research (2005)  menunjukkan bahwa individu dihadapkan pada dua hal yaitu kendala dan kebebasan. Kendala menunjukkan bahwa tidak semua individu memiliki kemampuan untuk melakukan pembelian karena keterbatasan dana. Kebebasan menunjukkan bahwa dengan  menggunakan kartu kredit, individu bisa terbebas dari kendala dari keterbatasan dana. Oleh karena itu, penggunaan kartu kredit bisa memudahkan individu untuk memenuhi segala keinginannya dengan  mudah dan cepat.





Created
Size
Downloads
2007-07-20 20:00:52
34.84 KB
69
LOGO STARBUCK & ZONA BARU

Iin Mayasari
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Paramadina Jakarta
iin.mayasari@paramadina.ac.id

Awal Januari 2011, Starbuck memulai mengisi lembaran tahun baru dengan mengubah logo. Howard Schultz menulis dalam situs  Starbuck untuk menjelaskan perubahan logo tersebut. Logo Mermaid merupakan logo yang digunakan oleh Starbuck sejak tahun 1971. Logo pada tahun 1971, ada nama coffee, tea dan spices. Tahun 1987, logo mengalami perubahan dengan hanya mencantumkan coffee. Hal ini menandai adanya pilihan menu baru yaitu espresso. Tahun 1992,  Starbuck melakukan publikasi logo Mermaid dengan tulisan coffee  sebagai trademark. Tahun 2011, Starbuck mengubah logonya dengan melepas Mermaid dari lingkaran dan menghapus nama coffee.

Logo merupakan elemen brand yang berkaitan dengan representasi grafis atau citra dan asosiasi memori dari brand tertentu. Logo  berkaitan dengan aspek estetika dan sebagai suatu cara untuk  mengkomunikasikan atribut brand. Berdasarkan penelitian Walsh, Winterich dan Mittal yang berjudul Do Logo Redesigns Help or Hurt your Brand? The Role of Brand Commitment dalam Journal of  Product & Brand Management (2010) menunjukkan bahwa perubahan logo akan memengaruhi persepsi konsumen. Perubahan pada logo akan memengaruhi konsumen-konsumen yang memiliki brand  commitment. Konsumen yang memiliki brand commitment yang kuat akan khawatir karena hal ini memengaruhi pada keterkaitan diri  dengan brand. Berdasarkan pantauan jejak pendapat dari situs Starbuck sendiri, banyak komentar negatif bermunculan seiring dengan perubahan logo Starbuck. Mereka adalah orang-orang yang  sudah fanatik dan penggemar Starbuck. Perubahan ini mengakibatkan mereka berpersepsi negatif pada Starbuck. Perubahan pada desain  visual membawa pengaruh pada makna brand sesungguhnya. Selain itu, perubahan logo dengan melepas nama coffee, dirasa akan  menyulitkan konsumen untuk mengaitkan desain atau gambar  tersebut dengan sesuatu, dan sulit untuk dikaitkan dalam memori  seseorang.





Created
Size
Downloads
2007-07-20 20:03:17
34.56 KB
67
Retro Brand-Kembali Bernostalgia

Iin Mayasari
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Paramadina Jakarta
Iin.mayasari@paramadina.ac.id

Retro brand merupakan merek atau produk yang dianggap sukses di masa lalu dan dipersepsi memiliki citra positif di benak konsumen. Merek ini ada dalam memori konsumen sehingga konsumen bisa  teringat kembali apabila merek ini dimunculkan oleh perusahaan. Retro brand yang bisa kita lihat saat ini misalnya banyak berasal dari otomotif misalnya merek dari VW Beatle, Mini BMW, Bugati Royale dan sejumlah merek lainnya. Retro brand yang merupakan  permainan misalnya Rubik Cube. Begitu juga dengan retro brand dari produk fashion dan makanan. Bahkan maskapai Garuda, juga meluncurkan retro brand- Brand Logo 1961-1969.

Retro brand dalam perspektif pemasaran adalah bisa dianggap  sebagai trend. Trend merupakan adalah perubahan dalam periode tertentu dan relatif bisa diprediksi perkembangannya. Lingkungan  sosial dan konsumen selalu berubah secara terus-menerus.  Pemahaman yang baik mengenai perubahan dan cara untuk  mengidentifikasi perubahan-perubahan yang membawa dampak jangka panjang akan membantu perusahaan menjadi pemasar yang lebih baik dan menciptakan keunggulan kompetitif dalam industrinya. Perubahan ini seharusnya dipahami dengan baik karena akan memberikan kesempatan kepada perusahaan. Perusahaan dalam memahami retro brand sebagai trend akan membawa implikasi pada pengembangan produk yang baik dan memberikan kesempatan  kepada perusahaan untuk mengembangkan strategi positioning dan promosi yang baik. Pemahaman awal yang baik dari berbagai macam data akan mampu membantu perusahaan dalam merumuskan  strategi pemasaran.





Created
Size
Downloads
2007-07-20 20:09:48
37.92 KB
73
Kompetensi Inti

in Mayasari
Dosen Program Studi Manajemen
iin.mayasari@paramadina.ac.id
Universitas Paramadina Jakarta

Strategi pemasaran yang baik ditujukan untuk mewujudkan nilai konsumen dengan memperhatikan aspek internal perusahaan.  Strategi ini berkaitan dengan penciptaan posisi unik yang meliputi sejumlah aktivitas yang mendukung dan berbeda. Strategi untuk mewujudkan nilai konsumen sesuai dengan perbandingan antara benefit dan biaya yang sudah dikeluarkan oleh konsumen dapat diwujudkan melalui penciptaan nilai. Penciptaan nilai ini bisa berupa bersifat stratejik maupun taktis. Penciptaan nilai yang stratejik bisa bermula dari pemilihan segmen, target pasar dan positioning; sedang penciptaan nilai taktis dapat berupa pengembangan produk,  penentuan harga, pemilihan saluran distribusi dan komunikasi. Penciptaan nilai ini bisa diwujudkan dari sejumlah aspek tidak hanya satu hal saja. Penciptaan nilai yang sukses bisa memberikan banyak manfaat bagi perusahaan. Sejumlah indikator menjadi rujukan kesuksesan penciptaan nilai. Indikator kinerja tersebut bisa dilihat  dari tiga pengukuran yaitu output kualitas, kinerja pasar, kinerja keuangan, dan kinerja sosial. Kemampuan perusahaan untuk  mewujudkan penciptaan nilai didukung sejumlah aspek internal perusahaan, salah satunya adalah kompetensi inti.





Created
Size
Downloads
2007-07-20 20:12:10
36.8 KB
76
PERSPEKTIF STAKEHOLDERS DAN MEREK

Iin Mayasari
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Paramadina Jakarta
iin.mayasari@paramadina.ac.id

Dalam mengembangkan merek agar bisa bertahan dan selalu  menjadi pilihan oleh konsumen sepanjang masa, perlu pemahaman mengenai perspektif stakeholder. Perspektif stakeholder tidak hanya membatasi pada hubungan antara pemilik saham dan manajer atau agen perusahaan, namun meperhatikan sejumlah aspek yang menjadi pemangku kepentingan perusahaan yaitu konsumen, masyarakat atau publik, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat atau NGO, pesaing, media, distributor, pemasok, karyawan dan tentu saja manajer itu sendiri, dan pemegang saham. Richard Jones dalam artikelnya yang berjudul Finding Sources of Brand Value: Developing a Stakeholder Model of Brand Equity dalam Journal of Brand Management, (Oktober 2005), menyatakan bahwa memahami merek harus mengadopsi prinsip dependensi dan stratejik. Prinsip  dependensi menunjukkan merek tidak bisa didukung oleh aspek secara sendirian, namun harus memperhatikan semua elemen yang mendukung eksistensi merek yang sekaligus eksistensi perusahaan. Selain itu, masing-masing elemen saling terkait satu sama lain. Pemahaman semua elemen ini juga merupakan pemikiran yang bersifat stratejik karena tidak hanya berpikiran jangka pendek dan satu sisi saja, namun juga memperhatikan aspek eksternal perusahaan dan sifatnya jangka panjang. Stratejik berkaitan juga  dengan memfokuskan eksistensi dan keberlangsungan merek dalam waktu yang lama.





Created
Size
Downloads
2007-07-20 20:15:54
33.8 KB
77
KONSISTENSI NILAI KONSUMEN

Iin Mayasari
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Paramadina Jakarta
iin.mayasari @paramadina.ac.id

Nilai konsumen merupakan sebagai sesuatu yang wajib untuk diperhatikan oleh perusahaan karena dalam nilai terdapat sebuah pengorbanan yang dikeluarkan oleh konsumen untuk mendapatkan benefit yang menjadi hak konsumen. Pengorbanan konsumen  berkaitan dengan biaya yang sudah dikeluarkan meliputi biaya moneter, biaya waktu, biaya energi, dan sejumlah risiko yang berkaitan dengan risiko sosial, psikis, fisik. Benefit yang ditawarkan oleh konsumen merupakan proposisi yang tidak hanya terwujud dalam aspek fungsional, namun juga aspek experiential dan simbolik. Nilai konsumen secara ideal dipromosikan oleh perusahaan seharusnya melalui konsistensi strategi pemasaran berkaitan dengan kualitas produk, pelayanan yang optimal, penentuan harga sesuai  dengan benefit yang diterima, distribusi produk yang lancar, dan komunikasi ide yang sesuai dengan target konsumen perusahaan. Konsistensi ini penting karena agar menciptakan reputasi positif atau citra positif di mata konsumen. Dengan reputasi positif secara terus-menerus, perusahaan akan mempertahankan konsumen dalam jangka panjang. Profitabilitas akan terus meningkat. Begitu  sebaliknya, ketika benefit yang diterima jauh lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan oleh konsumen, hal ini menunjukkan bahwa  perusahaan tidak bisa konsisten memberikan yang terbaik kepada konsumen. Indikator yang muncul bisa penjualan yang menurun, pangsa pasar menjadi kecil, nilai saham turun, dan citra perusahaan mengalami penurunan.





Created
Size
Downloads
2007-07-20 20:17:37
34.54 KB
81
THE POWER OF YOU TUBE: SISI POSITIF & NEGATIF

Iin Mayasari
Dosen Program Studi Manajemen, Universitas Paramadina Jakarta
iin.mayasari@paramadina.ac.id

Fenomena You Tube memang menjadi topik yang tidak berkesudahan untuk didiskusikan. Diskusi ini tidak hanya berhenti pada aspek  manajerial dan bisnis, namun juga dibahas dalam aspek teoretis dan konsep dalam bangku kuliah di Manajemn Pemasaran. Dalam artikel John Deighton & Leora Kornfeld yang berjudul “Sony and the JK  Wedding Dance” pada Harvard Business School (2010), menjelaskan bahwa You Tube merupakan kekuatan media untuk promosi sebuah produk dalam menggantikan media lain. Penggunaan ini merupakan audio visual sehingga semua konsumen bisa melakukan akses dengan mudah asalkan koneksi internet sedang berjalan lancar. Platform You Tube sebagai media bersifat in-stream artinya bisa dilihat sembari melakukan downloading musik atau fim atau apa saja. Sekedar  informasi, You Tube didirikan Februari tahun 2005 oleh tiga karyawan Paypal yang mengundurkan diri. Pada tahun 2006, Google melakukan pembelian You Tube dan pada tahun 2008, Majalah Forbes  memberikan penghargaan karena You Tube di bawah pengelolaan  oogle mampu meraih penghasilan yang sangat besar.





Created
Size
Downloads
2007-07-20 20:19:31
38.55 KB
75
OMMUNICATING CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY ACTIVITIES TO PUBLIC: THE STUDY OF WEBSITE PUBLICATION OF INDONESIAN COMPANIES

Iin Mayasari
Universitas Paramadina Jakarta Indonesia
iin.mayasari@paramadina.ac.id or iin.mayasari@yahoo.com

Abstract

Purpose:The paper aims to evaluate the implementation of  stakeholder theory including the elements of environment,  community, employee, supplier and consumers in social activities of  companies. The evaluation of corporate social responsibilties can be traced from the reporting activities on companies’website. Methodology:A content analysis of companies that listed in LQ45 and  some other companies that publish their corporate social  activites on website. There are fifteen industries and 101 companies.  The industries are Mining & Energy,Telecommunication & Service,  Food & Beverage, Construction, Automotive, Banking, Insurance, Pharmaceutical, Non-Cyclical Consumer Goods, Transportation,   Broadcasting, Materials, Industrials, Natural Gas, Real Estate. Findings: The percentage of corporate social responsibility activity of mining and energy industry on environment was 16,90%. It was the highest percentage of corporate social responsibility on environment. The magnitude and propotion of corporate social responsibilities that reported on the website is relatively unequal. The highest proportion lies in environment, community, and consumer. The least proportion lies in supplier. Originality/Value: The literature on social  responsibility drives the growth of internet tools to promote social business activities. The importance lies in the spreading information of business activities in order the public recognizes what the  companies are doing and have accomplished.The website can describe  the communication as the e-reputation. The corporate  website is used to attain the interest of stakeholders. It is the tool of marketing communication to convey corporate social responsibility  message and enhance brand equity. The information disclosure  provides public with the activities regarding stakeholder perspectives including environment, society, supplier, consumers.

Keyword:  corporate social responbility, and corporate social  responsibility reporting, website publication of corporate social  responsibility
Research Type:Research paper





Created
Size
Downloads
2007-07-20 20:21:01
188.87 KB
66
An Exploratory Study of Recognizing Social Marketing in Business Practices to Achieve Better Performance in Challenging Business Environment

Iin Mayasari
Lecturer in Management Program, Paramadina University, Indonesia
iin.mayasari@paramadina.ac.id or iin.mayasari@yahoo.com

The Address:
Management Program
University of Paramadina
T +62 21 7918 1188 # 140
F +62 21 799 3375
M +081328004587
Jakarta, Indonesia

Purpose of the Study : This exploratory study tried to link theoretical perspective of social marketing or social orientation with practices of business activities reporting. The reporting can be used as a starting  point for the development of benchmarking for business activities.  The study has three objectives namely 1) to study the motives of   implementing social marketing; 2) to understand the programs of  social marketing; and 3) to comprehend the dimensions of social orientation. Social orientation in social marketing emphasizes the  importance of organization activity on the well-being of consumers and society. It highlights that organization has put the long-term interest of consumers and society at large. It can widen an  organization’s attention from organizational short-term perspectives to address the well-being of consumers and society in the long-term.
Research Method:This study used field research consisting of in-depth interviews with managers in private sectors and state owned  enterprise. The interview was based on the aspects of social  orientation. The data was analyzed through the linking of social  orientation.
Findings: The social marketing has been applied by the for years.  hey have recognized the importance of social orientation. The urge and the demand of social orientation application have been  implemented. However, the implementation varied.
Originality/Value: The concept of social marketing has been  addressed by Kotler in 1972. Social marketing was articulated as the customer orientation backed by integrated marketing aimed at generating customer satisfaction and long-run consumer welfare. These aspects are included in social orientation or social marketing. This study tried to operationalize the concept of social orientation or social marketing.
Keyword: social orientation, social marketing, consumer well-being.





Created
Size
Downloads
2007-07-20 20:25:41
187.16 KB
65
Saturday the 24th. Universitas Paramadina. - All rights reserved.