Knowledge Center
Overview Search Downloads Up
Category: Publication
Page 1 of 23
Order by: Default | Name | Date | Hits | [Ascending]
Select all files:
Files:
IDEAS AND INTERESTS IN INDONESIA’S NUCLEAR DIPLOMACY: Conventional Security Issue in Constructed Diplomacy By: Peni Hanggarini Lecturer and Head Department of International Relations Paramadina University Jakarta, Indonesia

As reflected in its independent and active foreign policy,
Indonesia posses strong commitments to create peace at the
international stage. One of the attempts is to conduct nuclear
diplomacy through supporting the idea of Nuclear Non Proliferation
Treaty and Nuclear disarmament in the world.
However, the underlying ideas and interests in Indonesia’s
nuclear diplomacy should be analyzed as there is a rising doubt on the
construction of the future world without nuclear. In addition, there
have been various debates on Indonesia’s stance to Nuclear Diplomacy
as the issue is more complicated with the involvement of major
powers, religious solidarity factors and concern on energy security.
This study tries to examine ideas constructing Indonesia’s
nuclear diplomacy with the emphasis on Indonesia’s diplomacy during
Susilo Bambang Yudhoyono Administration. Based on Constructivism
perspectives, Indonesia has been capable to construct nuclear
diplomacy without reliance to any foreign power. Indonesia has
preserved its significant non nuclear proliferation identity. Both
domestic and foreign factors have been equally contributing to
Indonesia’s consideration to construct the identity.
Keywords:
Nuclear Diplomacy, Constructivism, Diplomacy





Created
Size
Downloads
2011-03-24 14:12:55
104.08 KB
76
KAJIAN PERAN PEREMPUAN: PEMBUATAN KEPUTUSAN BERETIKA DALAM ASPEK BISNIS MELALUI PENDEKATAN MULTI-PRINSIP

Artikel ini merupakan tulisan konseptual berdasarkan studi literatur riset-riset perspektif
gender terdahulu. Tujuan penulisan ini adalah menjelaskan peran perempuan dalam membuat
keputusan beretika berkaitan dengan kegiatan bisnis. Kegiatan bisnis ekonomi saat ini mulai
didominasi oleh peran perempuan yang menunjukkan prestasi karir yang bagus. Hal ini tidak
hanya ditujukan untuk perusahaan besar namun juga meliputi perusahaan kecil atau
kewirausahaan. Memahami perempuan tidak bisa menggunakan pendekatan pemikiran etis
tradisional yang hanya menekankan pada 1) kurang perhatiannya pada minat dan hak
perempuan; 2) mengabaikan isu-isu perempuan; 3) kapasitas moral perempuan yang dianggap
lebih rendah daripada pria; 4) menekankan pada rasionalitas, intelektual dan kemandirian;
serta 5) menekankan pada aturan serta universalitas. Namun, dalam hal ini peran perempuan
pada pembuatan keputusan berertika lebih memfokuskan pada multi-prinsip yaitu 1) dinamika
kekuasaan-power dynamic; 2) fokus pemahaman hubungan-relational understanding; dan 3)
menekankan pada pengalaman-emphasis on experience.





Created
Size
Downloads
2011-03-24 14:14:31
111.51 KB
75
MEMAKNAI LUXURY BRANDS

Luxury brands (LB) diterjemahkan sebagai merek yang memiliki
kemewahan. Namun tidak hanya itu saja. Kemewahan menjadikan merek tidak
hanya memiliki nilai material suatu produk, tetapi merek tersebut bisa
membangkitkan adanya dunia mimpi, citra, tanda dan motif. Merek yang
menawarkan kemewahan tidak bisa ditujukan untuk segmen yang sama. Masingmasing
merek ditawarkan untuk target pasar yang berbeda-beda. LB menurut
Berthon et al. (2009) dalam artikel Aesthetics and Ephemerality: Observing and
Preserving the Luxury Brand yang diterbitkan California Management Review,
berkaitan dengan kegiatan individu untuk melakukan konsumsi yang
menunjukkan kekayaan atau prestige seseorang. Kemewahan bisa berarti
memiliki aspek negatif dan positif. Aspek negatif artinya mengumbar hawa
nafsu, mengikuti kemauan diri untuk bersenang-senang sedangkan kemewahan
juga memiliki aspek positif yaitu berkaitan dengan keinginan diri untuk
melepaskan dari sesuatu yang umum dan rutin dan bertujuan untuk
menciptakan kondisi yang lebih baik dan nyaman. Merek yang mewah juga
berkaitan dengan kualitas, sensualitas, eksklusif, sejarah, harga mahal, dan
keunikan.





Created
Size
Downloads
2011-03-24 14:16:29
38.46 KB
79
Perguruan Tinggi sebagai “Rumah” Para Pewaris Nabi

Magna Carta lahir di Inggris pada 1215. Inilah hukum formal yang ditetapkan Raja
John yang secara signifikan meruntuhkan absolutisme kekuasaan raja atas
rakyatnya. Secara prinsip, siapapun harus tunduk kepada hukum untuk semua
perselisihan. Tidak ada manusia, termasuk raja, yang berada di atas hukum.
Walaupun niatnya mulia, menurut banyak pengamat sejarah, hukum ini tak efektif
karena hanya berlaku beberapa bulan sebelum dilanggar sang raja sendiri (Murphy,
Nd). Pada 1222, atau tujuh tahun kemudian, Ken Arok muncul menjadi raja
pertama Kerajaan Tumapel (sebelum berubah nama menjadi Singosari). Pada saat
yang sama, di Jerusalem, terjadi Perang Salib yang ke-5 antara Islam dan Kristen.
Menurut Thomas Madden, ahli sejarah Crusades di St. Louis University, AS, ada
kontradiksi antara persepsi dan kenyataan di kalangan kerajaan Eropa waktu itu
yang menganggap perlu memperluas peradaban Kristen Eropa yang dipersepsikan
lebih maju ke kawasan Timur Tengah. Kenyataannya, peradaban Islam di Timur
Tengah waktu itu lebih maju dibandingkan Eropa (Sushter, 2004). Menurut Mitchell
(2002), para pejuang Perang Salib dari Eropa membawa pulang pengetahuan baru
tentang kedokteran, anatomi, ilmu perang, matematika, tekstil, dan memasak.
Yang lebih penting lagi, semangat untuk mencari pengetahuan baru muncul di
Eropa sehingga peradaban Barat menjadi maju sampai sekarang ini. Pada 1516,
terbit buku Utopia dari Thomas More yang mengkritik penegakan hukum di Inggris
di tengah meluasnya jurang antara kaya dan miskin. Di masa inilah, Eropa
mengalami masa keemasan kelahiran baru (renaissance) peradaban hingga saat
ini.





Created
Size
Downloads
2011-03-24 14:17:59
59.81 KB
70
MENGHADAPI PERSAINGAN: ORIENTASI KOMPETITOR VS KONSUMEN

Persaingan industri dalam setiap kategori produk saat ini tidak bisa
dihindari. Hal ini dilihat dari banyaknya pemain dalam satu industri. Masingmasing
perusahaan berusaha untuk menawarkan produk pada konsumen yang
sama. Banyaknya perusahaan yang terjun dalam satu industri bisa disebabkan
oleh sejumlah faktor. Pertama, dari sisi perusahaan memiliki kompetensi,
kekuatan teknologi, kecukupan modal, keahlian dalam melakukan riset,
keinginan untuk mempertahankan profitabilitas dalam jangka panjang;
sedangkan dari sisi konsumen, konsumen memiliki preferensi yang berubah
karena disebabkan oleh adanya keinginan yang beragam. Keinginan yang
beragam ini juga dipicu karena meningkatnya penghasilan, bertambahnya
pengetahuan dan pengalaman, pengaruh kelompok referensi, dan tuntutan
kerja. Dengan adanya kekuatan dua sisi mendorong perusahaan mau tidak mau
berusaha untuk ikut serta dalam persaingan karena apabila perusahaan tidak
mengikuti persaingan, maka perusahaan akan kehilangan peluang untuk
mendapatkan keuntungan. Konsekuensinya, perusahaan tidak akan mampu
mempertahankan keberadaan bisnisnya, dan akhirnya akan membubarkan diri.





Created
Size
Downloads
2011-03-24 14:19:13
35.52 KB
77
PERILAKU MENYIMPANG KARYAWAN: TINJAUAN DISPOSISI DAN SITUASIONAL

Studi ini meneliti mengenai perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang ini mulai meningkat dalam
studi keperilakuan organisasi. Pendekatan situasional yang berupa aspek organisasional dan pendekatan
psikologi yang berupa kepribadian digunakan untuk menganalisis perilaku menyimpang. Aspek
organisasional berupa keadilan distributif dan prosedural. Aspek kepribadian berupa locus of control,
trait of anger, dan afeksi negatif.Perilaku menyimpang terdiri atas empat aspek yaitu perilaku
menyimpang secara manajemen, pekerjaan, diri sendiri, dan pengembangan karir. Studi ini dilakukan di
sebuah universitas Jakarta dengan jumlah responden sebesar 28 orang. Analisis data menggunakan
regresi berganda. Hasil menunjukkan bahwa keadilan prosedural mempengaruhi perilaku menyimpang
pada aspek pekerjaan secara negatif; keadilan distributif mempengaruhi perilaku pada aspek pekerjaan
menyimpang secara positif; afeksi negatif mempengaruhi perilaku menyimpang pada aspek pekerjaan
secara positif.
Keywords: perilaku menyimpang, keadilan distributif, prosedural, kepribadian





Created
Size
Downloads
2011-03-24 14:20:44
222.25 KB
77
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN SKEPTISME

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan perwujudan kesadaran
organisasi untuk tidak hanya mementingkan maksimalisasi profit. Namun, ada
suatu kesadaran yang penuh dan proaktif bagi para shareholder utama
perusahaan untuk tidak menggunakan profitabilitas perusahaan untuk
kepentingan sendiri. Ada aspek berbagi pada sesama di setiap elemen
stakeholders. Orientasi berbagi ini tidak hanya bersifat reaktif, artinya
perusahaan tidak melakukan kegiatan CSR karena ada peraturan yang
mendesak atau ketika perusahaan mengalami suatu krisis. Perusahaan dengan
sangat sadar melakukan hal ini tanpa perlu didorong oleh suatu peristiwa yang
sifatnya mendadak. Perusahaan yang melakukan kegiatan CSR ini cenderung
tidak ramai dari publikasi, karena mereka benar-benar melakukan secara tulus
tanpa desakan dari pihak eksternal.





Created
Size
Downloads
2011-03-24 14:22:07
36.4 KB
85
PERANTI LUNAK SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENYEDIAAN SARANA AIR BERSIH DI PERMUKIMAN TRANSMIGRASI

Permasalahan yang timbul dalam penanganan air bersih di pemukiman transmigrasi selama ini dengan
diterapkannya kebijakan penyeragaman paket-paket untuk semua kondisi alam, sehingga menyebabkan
banyaknya fasilitas air bersih yang tidak berfungsi. Hal ini karena metodelogi riset sumber daya air dan
pemilihan sarana air bersih yang digunakan kurang memperhatikan kondisi alam dan kebutuhan warga
setempat. Mengingat kebutuhan akan sumber daya air yang semakin meningkat menuntut proses identifikasi
yang lebih cepat dengan mempertimbangkan multi parameter hidrologi. Kecepatan identifikasi ini tergantung
kepada informasi yang tersedia dan ketajaman analisa informasi tersebut. Sementara itu, komputerisasi dan
proses pengambilan keputusan merupakan alat yang efektif dalam rangka mempercepat penilaian potensi
sumber daya air. Perapan Piranti Lunak ini, adalah salah satu bentuk yang dapat dipergunakan dalam rangka
Komputerisasi pengambilan keputusan guna terwujudnya identifikasi sumber daya air dan penentuan jenis
sarana air bersih di permukiman transmigrasi secara cepat dan teliti.





Created
Size
Downloads
2011-03-24 14:23:33
604.58 KB
66
Constructing Cohesion of Regional Integration on European Union (EU) and Association of Southeast Asian Nations (ASEAN)

The integration of European states into European Union (EU) has proved that ideational
forces as well as material forces could generate a strong cohesion of regionalism. The
construction of this body of regionalism has brought several ideational and material benefits to
the members. However, the success story of EU does not necessarily mean that EU can be
considered as the best model for Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). This is
partly due to the differences on the objectives and development process of the two bodies of
regionalism.
This paper develops into three major parts. Firstly, it tries to understand how European
regional integration is socially constructed. Secondly, it examines whether construction of EU
organizational model can be adapted by ASEAN. Lastly, it tries to elaborate ideas of European
integration which can be transferred to the ideas sustaining the three pillars of ASEAN
Community: Economic, Security and Social-Cultural Community.
The study suggests that EU as a socially constructed region could not be the best model
for ASEAN, nevertheless, it can be an inspiration for the development of ASEAN. EU
integration lessons can inspire ASEAN in constructing interests, identities and behavior for the
cohesion of the body. Therefore, the ASEAN Community can be a structure like EU. It would be
able to organize actions constituted by collective meanings through discursive and
intersubjective understandings among the members. Using Constructivism as the main
framework of analysis, this study hence can enrich the study of regionalism particularly on the
study of EU and ASEAN.
Keywords: Constructivism, European Union (EU), Association of Southeast Asian Nations
(ASEAN)





Created
Size
Downloads
2011-03-24 14:24:59
168.6 KB
69
“NURCHOLISH” AFTER NURCHOLISH

Dulu, segera setelah Nurcholish Madjid menyampaikan makalahnya yang berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat (selanjutnya disebut KPPI-MIU)” pada bulan Januari 1970 di Jln. Menteng Raya 58 Jakarta, publik yang sebelumnya menjuluki Nurcholish sebagai “Natsir Muda” (karena isi risalah Nilai Dasar Perjuangan/NDP, yang ditulisnya untuk HMI); langsung bereaksi keras dengan menyatakan bahwa Nurcholish sudah berubah. Mereka mulai berbicara mengenai “Nurcholish before Nurcholish”, yang mendikotomikan secara tegas antara Nucholish Lama dan Baru, yakni Nurcholish sebelum dan sesudah penyampaian makalah itu.





Created
Size
Downloads
2011-03-25 08:54:22
114.65 KB
67
Thursday the 17th. Universitas Paramadina. - All rights reserved.